Aduh Salah Jurusan! “Masalah atau Peluang?”

Selamat datang di kehidupan mahasiswa. Bagi mahasiswa baru tentu menjadi kebanggaan tersendiri ketika pergi ke kampus tidak usah ribet memakai seragam atau buru-buru berangkat sebelum jam tujuh pagi sebelum berdiri di bawah tiang bendera gara-gara melompati pagar sekolah.

Membawa satu buku bukan lagi dianggap siswa malas, karena emang santai aja sih apalagi kalau satu hari satu mata kuliah berarti hanya mendengarkan kelompok presenter dan dosen. Lagipula, kita tidak lagi dipusingkan dengan mata pelajaran yang heterogen seperti sekolah, yang menuntut seseorang yang tidak pandai berhitung harus dapat nilai sempurna dalam ilmu eksak, atau seseorang yang kurang lihai beretorika harus dapat nilai sempurna dalam ilmu bahasa. Ya, dunia kuliah tak lagi sama dan membuat kita jauh lebih santai dengan pilihan kita. Benar begitu?

Namun di lapangan, masih banyak ditemukan mahasiswa yang merasa pilihan jurusan yang diambil tidak sesuai dengan keinginannya sendiri. Menurut penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN) menunjukkan sebanyak 87 persen mahasiswa di Indonesia mengakui bahwa jurusan yang diambilnya tidak sesuai dengan minatnya, atau bisa dikatakan salah jurusan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan mahasiswa salah dalam mengambil jurusan antara lain tidak punya cita-cita yang jelas, kuliah karena pilihan orang tua, kuliah karena gengsi, ikut-ikutan, belum menemukan passion, kurangnya pengetahuan tentang jurusan yang ingin dimasuki.

Ada dua cara mengetahui apakah jurusan kuliah yang kita ambil memang pas untuk kita. Pertama, bagi sebagian mahasiswa baru semester awal kesulitan tersebut belum terlihat. “Ah semuanya akan baik baik saja”. “Wah mata kuliahnya ternyata nggak sesulit ini”. Lama-kelamaan semua kesulitan dan kebosanan baru terasa ketika sudah menginjak semester pertengahan menjelang akhir. Merasa bahwa dirinya tak mampu lagi melanjutkan, akan tetapi sudah merasa nanggung untuk berhenti. Bahkan ada beberapa orang yang sudah merasakan kebosanan bahkan keputusasaan sejak semester pertama “tahun depan nggak lagi kuliah di sini.”

Memang tidak dapat dipungkiri, salah jurusan dapat mengganggu pikiran. Mulai dari nggak dapat feel saat mengikuti perkuliahan sehingga banyak mata kuliah yang harus diulang karena kesulitan di semester awal hingga bingung mencari pekerjaan di luar jurusannya karena merasa tidak mampu untuk bekerja sesuai dengan jurusan kuliah yang diambilnya. Belum lagi ketika keluarga dan teman-teman mulai menanyakan kapan lulus, mau kerja apa setelah ini, “kok sekarang pengangguran padahal lulusan teknik loh” misal, dan masih banyak lagi gosip para tetangga yang tentunya mengusik kamu.

Setelah adanya masalah ini ditambah dengan tekanan lingkungan, mungkin pikiran kita akan langsung bimbang dengan dua bisikan batin ini, “Apakah saya harus melanjutkan?” atau “Apakah saya harus berhenti?”

Dan dua bisikan inilah yang menjadikan seseorang terjebak dan tertekan karena memikirkan dua resiko setelahnya. “Jika saya melanjutkan” dan “Jika saya berhenti”. Kemudian, bagaimana cara menjawabnya?

Pertama, yang kita perlukan adalah ‘mojok’ menyendiri kemudian bertanya kepada diri sendiri. Siapa kita? Apa tujuan kita? Apa yang kita sukai? Dengan mengenal diri sendiri maka sudah dapat dikatakan ‘ancang-ancang’ untuk memulai pelarian eh maksudnya perjalanan ke depannya.

Kedua, memikirkan resiko. Ketika hendak lanjut mengambil langkah berhenti kuliah atau tetap melanjutkan, kita harus memikirkan resiko apa yang akan kita dapatkan dan bagaimana cara mengatasi resiko tersebut?

Misal, “Gue nggak cocok di bidang teknik dan lebih tertarik ke seni, di sisi lain gue udah dua tahun kuliah teknik kalau berhenti kasihan orang tua gue yang udah mati-matian cari duit buat kuliah teknik.”

Kalau dihadapkan dengan kasus berikut, resiko yang didapatkan ketika berhenti ialah kamu akan kehilangan kepercayaan orang tuamu karena pasti mereka akan kecewa dengan keputusanmu. Tetapi jika tetap dilanjutkan maka kamu akan mendapatkan kesulitan-kesulitan lain seperti durasi kuliahmu akan semakin lama karena tugas akhir yang tidak kunjung selesai atau mengulang mata kuliah yang belum lulus di semester sebelumnya, hasil akhir kuliah yang tidak memuaskan karena setiap semester yang dirasa sulit untuk bahkan sekedar mendapatkan nilai C. 

Pada intinya, resiko yang dipilih haruslah resiko yang kecil sehingga meminimalisir kamu untuk jatuh di langkah selanjutnya

Ketiga putuskanlah dengan berani. Ketika sudah mempelajari resiko kini saatnya memantapkan keyakinan. Karena langkah tidak akan tercipta hanya dengan ‘udah jalanin dulu’. Tanpa ada keyakinan maka perjalanan akan semakin sulit dan menemukan banyak keraguan di depan.

Kasus di poin dua dapat kita jadikan contoh kembali untuk menetapkan keyakinan, jika benar-benar tidak dapat dilanjutkan dan kamu memilih berhenti, kamu harus menyiapkan rencana besar yang dapat kamu lakukan setelah kamu memilih berhenti kuliah. Misal dengan menjadi wirausahawan dan kembali bekerja keras ya setidaknya untuk ‘mengganti’ biaya yang orang tua telah keluarkan untuk membiayai kuliahmu.

Sebaliknya, jika pilihanmu melanjutkan kuliah, maka kamu harus benar-benar berani menjalankan rintangan-rintangan yang ada di depanmu hingga memikirkan apa yang akan dilakukan setelah lulus kuliah. Apapun pilihannya, keberanian dalam melangkah tetap harus menjadi pegangan, jangan sampai salah lagi dalam mengambil keputusan yang sangat penting ini.

Kemudian setelah mempraktikan ketiga cara, kita dapat memberikan sebuah jawaban dari judul yang tertera. Apakah salah jurusan itu masalah atau peluang?

Salah jurusan dapat menjadi sebuah masalah apabila tidak mempersiapkan diri untuk keluar dari zona kesalahan yaitu apabila kita hanya berdiam diri dan hanya berjalan tanpa mendapatkan feel apapun dari perjalanan itu. Sebaliknya dapat menjadi peluang untuk memperluas wawasan sekaligus mengembangkan soft-skill di bidang yang kita sukai di luar yang disediakan oleh jurusan. So guys, cheer up. Nggak semua kesalahan bisa jadi masalah kok, kita pasti bisa menghadapinya.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *